Order Cepat: 0857-8171-8161

Mencintai Karena Allah, Membenci Karena Allah

Abu Bakar memiliki beberapa anak laki-laki. Seorang di antaranya bernama ‘Abdurrahman. Ketika Abu Bakar dan keluarganya menjadi Muslim, ‘Abdurrahman menolak ikut serta menjadi seorang Muslim. Dia memilih tetap dalam barisan orang kafir. Bahkan ketika terjadi Perang Badar dan Perang Uhud, ‘Abdurrahman ikut menjadi tentara pasukan kafir Quraisy.

Dalam perang Badar, Abu Bakar sempat menyapanya dengan lembut agar hatinya luluh, tetapi jawabannya tegas, “Yang ada saat ini hanyalah senjata dan kuda, serta pedang tajam yang siap membabat orang tua yang sudah renta (maksudnya, bapaknya sendiri).”

Atas sikap ‘Abdurrahman yang memusuhi Islam itu Abu Bakar bermaksud menghadapi anaknya ini dan membunuhnya, tetapi ia dicegah oleh Rasulullah Shallallahu alahi wa’salam.

Ketika pertempuran berlangsung, ‘Abdurrahman berkali-kali melihat posisi Abu Bakar dalam pertempuran tersebut, tetapi ia berusaha menghindari bentrokan dengan ayahnya. Ternyata dia tak tega membunuh ayahnya, meski mereka berada pada pihak berseberangan.

Ketika telah memeluk Islam, ‘Abdurrahman menyampaikan hal ini kepada ayahnya. Mendengar itu Abu Bakar menyahut, “Demi Allah, sekiranya aku melihatmu saat itu, aku pasti akan membunuhmu!”

What?!

Mengapa ‘Abdurrahman tak tega untuk membunuh ayahnya, tapi Abu Bakar merasa tak ragu untuk membunuh anaknya itu? Padahal masyhur diketahui bahwa Abu Bakar adalah orang yang halus perasaannya. Apakah yang mendasari sikapnya itu?

Itu karena cintanya kepada Allah dan Rasulullah melebihi cintanya kepada siapa pun, atau kepada anak kandungnya sendiri. Abu Bakar adalah orang yang mewakili karakter yang Allah gambarkan dalam ayat berikut,

Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hati mereka telah ditanamkan Allah keimanan, dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. (al-Mujadilah [58]: 22)

Akidah Abu Bakar yang bersih menjadikan dia mampu mencintai seseorang karena Allah, meski dia bukan keluarga biologisnya, dan membenci seseorang karena Allah, meski dia adalah anak kandungnya.

Sosok sebaliknya adalah Abu Thalib, paman Rasulullah. Abu Thalib adalah orang yang memelihara dan mengasuh Rasulullah setelah keponakannya ini menjadi yatim piatu. Abu Thalib sangat mencintai keponakannya ini, bahkan konon cintanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam melebihi cintanya kepada anak-anak kandungnya.

Namun sayangnya, cintanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam hanya sebatas cinta karena faktor genetis. Sayangnya, Abu Thalib enggan mengikuti fitrahnya untuk menerima kebenaran. Dia memilih menutupi pikirannya dengan pikiran jahiliyah, yakni fanatisme terhadap tradisi nenek moyangnya.

Abu Thalib memilih tidak mengikuti kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam, meski tahu bahwa ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam adalah ajaran yang haq, demi kesetiaannya pada ajaran bangsanya yang sesat. Dia memilih untuk tidak mengucapkan kalimat syahadat hingga akhir hayatnya. Maka jadilah dia sebagai orang yang fasik, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur’an,

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah  memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (at-Taubah [9]: 24)

***

(Penulis: Abu Faza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FAN PAGES KAMI

ALAMAT KAMI

MAGHFIRAH PUSTAKA

Jl. Swadaya Raya,
Kavling DKI Blok J No. 18, RT 01/05
Jakarta Timur – 13440

: 021-86613563/72
: 021-86608593
: marketing@maghfirahpustaka.com

PETA LOKASI

Copyright 2017 Maghfirah Pustaka