Banyak di antara kita yang lebih sering menghabiskan waktu untuk memikirkan bagaimana hidup enak, namun ada saat yang sama lupa memikirkan bagaimana mati enak. Sehingga, ketika malaikat maut datang menjemput tiba-tiba, kita tidak memiliki bekal yang cukup dan pantas untuk menempuh perjalanan mengarungi kehidupan setelah kematian.
Suatu hari, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟
Siapakah Mukmin yang paling cerdas?
Beliau menjawab,
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا, وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
“Orang Mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik persiapannya menghadapai kehidupan setelah mati. Mereka itulah Mukmin yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits di atas menyiratkan bahwa mati enak pun harus dipersiapkan dan bisa direncanakan. Sebagai seorang Mukmin, kita tak pernah memedulikan kapan dan di mana kita akan mati. Yang menjadi perhatian kita, orang Mukmin, adalah bagaimana kita mati. Sebab, akhir kehidupan manusia hanya ada dua kemungkinan: Husnul Khatimah (akhir yang baik) atau Su’ul Khatimah (akhir yang buruk).
Untuk bisa mati enak, kita perlu mengetahui langkah-langkah untuk mendapatkannya. Dr. Umar Abdul Kafi dalam bukunya Al-Wa’dul Haq: Perjalanan Terakhir Anda yang Pasti Terjadi menjelaskan, bahwa siapa saja yang menginginkan mati enak, hendaknya melakukan hal-hal berikut:
Untuk bisa mati enak, kita perlu mengetahui langkah-langkah untuk mendapatkannya. Dr. Umar Abdul Kafi dalam bukunya Al-Wa’dul Haq: Perjalanan Terakhir Anda yang Pasti Terjadi menjelaskan, bahwa siapa saja yang menginginkan mati enak, hendaknya melakukan hal-hal berikut:
Tulus terhadap Allah
Setiap Mukmin hendaknya ikhlas karena Allah dan hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal perbuatan yang dia lakukan.
Suatu hari, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang berperang dengan maksud mencari imbalan dan sanjungan, apa yang dia dapatkan?”
Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa.”
Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Setiap kali bertanya, Rasulullah selalu menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa.”
Rasulullah pun bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal seseorang, kecuali yang dilakukan dengan tulus kepada-Nya dan mengharapkan ridha-Nya.” (HR. Nasa’i)
Memperbarui niat
Memperbarui niat harus selalu dilakukan agar setiap mukmin selalu mawas diri dari waktu ke waktu dan senantiasa ingat tujuan akhir kehidupannya di dunia.
Para ulama salaf senantiasa mencatat keburukan pribadi mereka sendiri kemudian memperbarui taubat pada saat melakukan muhasabah. Kebiasaan mereka ini adalah wujud implementasi dari ucapan Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Dan berhiaslah dengan amal perbuatan untuk pertunjukan besar nanti. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan diringankan bagi orang yang menghisap dirinya di dunia.” (HR. Tirmidzi)
Senantiasa berbuat baik dan merasa rendah diri di hadapan Allah setelah berbuat salah
Di dalam hadits Qudsi, Allah berfirman melalui lisan Rasul-Nya, “Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan suatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan.” (HR. Tirmidzi)
Bersegera melakukan kebaikan
Setiap Mukmin hendaknya bergegas dalam melakukan kebaikan dan tidak menunda-nundanya. Setelah itu, hendaknya ia menyembunyikan kebaikannya itu dan menganggapnya sebagai amalan yang kecil.
Ja’far ash-Shaqiq pernah berpesan kepada Sufyan ats-Tsauri, “Suatu kebaikan tidak akan ter
wujud kecuali dengan tiga hal: menyegerakannya, menganggapnya kecil, dan menutupinya.”
Mengikuti jejak Rasulullah
Kita hendaknya bersungguh-sungguh dalam mengikuti petunjuk Nabi Muhammad dan meniru teladan beliau dalam setiap ucapan dan perbuatan. Beliau bukan pendusta, bukan orang yang kikir, dan bukan pemarah, kecuali jika berhadapan dengan orang yang melanggar larangan Allah.
Selalu ingat akhirat
Dengan mengingat akhirat, hati menjadi lembut, jiwa akan condong kepada ketaatan, dan hati selalu ingat pada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Memperbaiki kekurangan diri
Setiap muslim yang beriman hendaknya selalu memperbaiki kekurangan diri dengan belajar dan berpedoman pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, serta bertanya kepada ulama terpercaya.
Berpegang teguh pada agama dan akidah Islam
Inilah yang diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim dan begitu pula Nabi Ya’qub kepada anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata, ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam.’” (al-Baqarah [2]: 132).
Wallahul Musta’an.
****
(Penulis: Ustadz Dahyal Afkar)