Perang Khandaq (Perang Ahzab)

(Bagian 3 dari Rangkaian Kisah Peperangan Kaum Muslimin vs Kaum Yahudi)

Hasil Provokasi Yahudi Bani Nadhir

Terusirnya kaum Yahudi Bani Nadhir dari Madinah membuat mereka memendam dendam kepada kaum Muslimin (Lihat Kisah Perang Bani Nadhir). Mereka ingin membalas dendam dengan menyerang Madinah dan memerangi kaum Muslimin, namun mereka tidak berani melakukannya, karena mereka tahu bahwa mereka akan kalah. Maka mereka mencari cara lain untuk mengalahkan umat Islam.

Cara yang mereka tempuh adalah memprovokasi berbagai kabilah Arab yang musyrik untuk membangun pasukan ahzab (koalisi/gabungan). Langkah pertama adalah mengutus 20 orang pemimpin Bani Nadhir menghadap pemimpin kaum Quraisy di Makkah.

Dengan pertimbangan bahwa kaum Quraisy adalah suku terkemuka di jazirah Arab, mereka mengusulkan agar kaum Quraisy memotori pembentukan pasukan ahzab bersama berbagai kabilah musyrikin Arab dan kaum Yahudi untuk memerangi umat Islam di Madinah. Para utusan itu berjanji untuk ikut serta dalam pasukan ahzab. Para pemimpin kaum Quraisy menyambut baik usulan itu dan menyatakan siap untuk segera membangun pasukan koalisi.

Setelah itu para utusan pergi menghadap pemimpin kabilah Bani Ghathafan, suku musyrikin terkuat di jazirah Arab bagian utara, untuk mengajak bergabung dengan pasukan ahzab yang dipimpin suku Quraisy. Karena Bani Ghathafan sudah lama memendam kebencian kepada Islam, ajakan Bani Nadhir juga disambut baik oleh mereka.

Para pemuka Bani Nadhir kemudian melanjutkan kunjungannya ke berbagai kabilah kaum musyrikin Arab dan disambut baik. Mereka bersepakat membentuk pasukan gabungan dari berbagai kabilah musyrikin Arab dan kaum Yahudi untuk menyerang umat Islam pada waktu yang telah ditentukan.

Informasi tentang kesepakatan jahat itu akhirnya sampai juga ke kalangan umat Islam.  Nabi Muhammad ﷺ menanggapi rencana musuh dengan melakukan musyawarah bersama para sahabatnya. Berbagai pilihan strategi dan taktik dibahas pada musyawarah itu.

Menggali Parit

Sahabat beliau yang bernama Salman al-Farisi (Salman dari Persia) mengusulkan strategi pertahanan ala orang Persia, yakni membuat khandaq (parit) di sekeliling kota. Sebelumnya orang Arab tidak mengenal strategi pertahanan menggunakan parit.

Usul itu diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau dan para sahabat kemudian menggali parit di luar kota Madinah, di sebelah utara kota itu, dari arah pasukan musuh akan datang.

Di sebelah timur, barat, dan selatan kota Madinah terdapat gunung dan perbukitan yang menjadi benteng alami bagi warga kota Madinah, sehingga kaum Muslim tidak perlu menggali parit di ketiga sisi itu.

Parit itu membentang dari ujung Harrah (bukit yang terbentuk dari batu lava berwarna hitam) Al-Wabrah di sebelah barat kota Madinah ke ujung Harrah Waqim di sebelah timur. (Lihat gambar)

Perjuangan menggali parit pada saat itu terasa sangat berat karena terjadi ketika warga Madinah sedang kekurangan bahan pangan. Untuk menekan rasa lapar yang sangat, Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat  terpaksa mengganjal perutnya dengan batu. Setelah bersusah payah, umat Islam berhasil menggali parit sepanjang satu mil dengan lebar 7 m dan kedalaman 3 m.

Ilustrasi diorama tentang proses penggalian parit menjelang Perang Ahzab

Beberapa hari kemudian datanglah pasukan musuh. Musyrikin Quraisy mengerahkan 4 ribu orang tentara, dikomandani Abu Sufyan. Sedangkan pasukan musyrikin Arab dari berbagai kabilah lain berjumlah 6 ribu orang. Sehingga total pasukan musuh sekitar 10 ribu orang. Pasukan Islam hanya berjumlah 3 ribu orang.

Ketika pasukan gabungan kaum musyrikin tiba di utara kota Madinah, mereka terkejut ketika mendapati bentangan parit di hadapannya. “Ini cara perang yang tidak dikenal orang Arab!” seru Abu Sufyan dengan jengkel.

Pasukan gabungan kaum musyrikin mencoba menyeberangi parit itu. Sebagian pasukan musuh mencoba menimbun parit dengan tanah, agar mereka bisa melintas. Sebagian lainnya mencoba menyeberangi parit dengan terjun ke dalamnya kemudian memanjat parit. Namun upaya mereka senantiasa dihalangi oleh pasukan Muslim dengan lemparan panah dan sabetan pedang.

Karena upaya menyeberang senantiasa gagal akhirnya musuh memutuskan untuk melakukan pengepungan. Mereka mengepung Madinah selama lebih dari 20 hari. Akibatnya umat Islam terisolasi, persediaan makanan dan minuman nyaris  habis.

Pengkhianatan Bani Quraizhah

Di saat sulit demikian, terdengar kabar bahwa kaum Yahudi Bani Quraizhah yang tinggal di sebelah selatan kota Madinah melakukan pengkhianatan. Sesuai Piagam Madinah, seharusnya mereka membantu kaum Muslimin menghadapi musuh. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mereka bermaksud hendak turut memerangi kaum Muslimin. Pengkhianatan itu terjadi karena mereka menerima ajakan kaum Yahudi Bani Nadhir.

Ketika kabar pengkhianatan itu sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau memerintahkan Maslamah bin Aslam bersama 200 prajurit dan Zubair bin ‘Awwam bersama 300 prajurit bergerak ke selatan kota Madinah untuk menghadapi pasukan Bani Quraizhah jika mereka benar-benar melakukan penyerangan.

Ketika kondisi sedang mencekam, Allah memberikan pertolongan dengan kehadiran Nu’aim bin Mas’ud, seorang prajurit pasukan gabungan dari Bani Ghathafan yang telah masuk Islam tapi keislamannya belum diketahui sesama prajurit pasukan gabungan.

Setelah menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad ﷺ, Nu’aim menawarkan diri untuk melakukan misi memecah belah kekuatan musuh, yakni dengan menimbulkan saling ketidakpercayaan antara kaum Quraisy dengan kaum Yahudi Bani Quraizhah. Nabi Muhammad ﷺ merestui misi Nu’aim.

Setelah mendapatkan restu dari Nabi Muhammad ﷺ, Nu’aim segera menjalankan misinya. Nu’aim menjumpai para pemuka Bani Quraizhah, menyampaikan tentang risiko mereka bersekutu dengan kaum musyrik, yakni jika kaum Muslimin menang, kaum Quraisy dan Bani Ghathafan akan kembali ke kampungnya masing-masing, sedangkan Bani Quraizhah akan dihukum oleh kaum Muslimin.

Supaya kaum musyrik tidak membiarkan Bani Quraizhah dihukum oleh kaum Muslimin, Nu’aim mengusulkan agar Bani Quraizhah meminta jaminan 100 prajurit Quraisy. Para pemuka Bani Quraizhah membenarkan usulan Nu’aim. Mereka bertekad meminta jaminan itu kepada pemuka Quraisy.

Nu’aim kemudian pergi menjumpai pemuka Quraisy. Dia katakan bahwa kaum Bani Quraizhah menyesal telah mengkhianati umat Islam. Sebagai bukti bahwa mereka kembali setia kepada umat Islam, mereka akan  menyerahkan 100 prajurit Quraisy kepada umat Islam sebagai tawanan perang. Nu’aim kemudian berpesan, jika benar Bani Quraizhah mengajukan jaminan 100 prajurit Quraisy agar jangan dituruti.

Setelah itu Abu Sufyan mengirim utusan ke Bani Quraizhah, mengajak mereka menyerang Madinah esok hari. Sesuai saran Nu’aim, Bani Quraizhah menolak turut berperang kecuali jika Quraisy mengirim 100 prajuritnya sebagai jaminan.

Sesuai saran Nu’aim pula, pemuka Quraisy menolak mentah-mentah syarat yang diajukan Bani Quraizhah. Mereka memandang Bani Quraizhah sebagai kelompok orang-orang licik. Maka terjadilah perpecahan dan saling curiga di antara musuh-musuh Islam itu.

Setelah pengepungan berlangsung 27 hari, Allah mengirimkan angin taufan pada malam yang dingin dan gelap, yang menyebabkan kemah pasukan gabungan porak-poranda dan menerbangkan peralatan masak mereka. Pada saat yang sama, angin hanya bertiup lembut di perkemahan pasukan Islam.

Akibat serangan angin taufan itu, pasukan ahzab membubarkan diri, kembali ke daerahnya masing-masing. Atas kehendak Allah, mereka gagal untuk menumpas umat Islam. Maka gagal pula keinginan kaum Yahudi Bani Nadhir untuk menghabisi umat Islam melalui tangan musyrikin Arab.* (Saiful Hamiwanto)

Sumber: Ahmad Hatta, et al, The Great Story of Muhammad,  Maghfirah Pustaka, Jakarta, 2014.

Great Story Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.