Order Cepat: 0857-8171-8161

6 Alasan Kenapa Orang Senang Memplagiat Naskah

1. Malas Berpikir

Merasa nggak berbakat menulis, tapi mau ikutan lomba nulis. Setiap kali berhadapan dengan layar laptop, bingung mau menulis apa. Ide nggak matang, kosa kata sedikit, tulisan begitu-gitu saja, nggak ada perkembangan. Sekalinya berhasil menulis selembar-dua lembar langsung berpuas diri, namun setelah itu naskah ditinggalkan karena merasa bosan. Beberapa hari berlalu, naskah nggak disentuh sama sekali dan mereka malas melanjutkannya. Terus bagaimana dengan lomba menulisnya?

Plagiat! Ya, biasanya penulis pemula akan langsung berpikir untuk memplagiat naskah orang karena terlalu malas melanjutkan naskah sendiri. Yang penting bisa kirim naskah untuk lomba, nggak peduli dengan nasib merela ke depannya seperti apa kalau sampai ketahuan.

2. Maunya Instan

Tahu kan kalau proses menerbitkan buku itu nggak bisa cepat? Penulis perlu mengirimkan naskah mentahnya dulu, baik melalui email atau via pos ke penerbit atau media massa. Kemudian menunggu keputusan hingga berbulan-bulan. Tiap media dan penerbit tidak sama, ada yang cepat sekitar 2 minggu sudah diberi email balasan, ada pula yang butuh waktu 3-6 bulan. Malah di beberapa penerbit besar, proses antrean naskah agar bisa dibaca oleh editor bisa sampai setahun lebih, lho. Walah! Sudah nunggu lama, sekalinya dapat balasan, ternyata naskah ditolak! Sakit hati dong!

Nah, karena alasan inilah kadang ada saja penulis yang tidak mau menikmati prosesnya. Mereka tidak mau menunggu lama-lama, maunya kirim hari ini minimal minggu depan ada kepastian diterbitkan atau tidak. Makanya, mereka memilih untuk memplagiat naskah-naskah yang menurut mereka memiliki kemungkinan untuk best seller. Karena semakin bagus naskah yang diplagiat, semakin cepat kemungkinan editor akan melirik naskah itu. Maka lebih cepat pula naskah itu diterbitkan.

3. Ingin Cepat Dapat Uang

Salah satu faktor orang menulis ialah untuk mendapatkan uang. Memang dibandingkan pekerjaan kantoran atau pengusaha, honor dari menulis tidak seberapa. Tapi jika si penulis masih berusia muda, masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, honor dari menulis itu lumayan menambah uang saku. Saking ingin cepat dapat honor, kadang ada saja penulis yang memilih jalan pintas dengan cara plagiat. Tinggal copy-paste, kirim! Kalau ditolak, kirim tempat lain sampai keterima.

4. Ingin Cepat Terkenal

Kalau ditanya, “Apa alasan kalian menulis?” Beberapa penulis pemula menjawab, “Biar terkenal.” Lalu, kalau sudah terkenal, mau apa? Mereka pun diam.

Memang tidak semua penulis ingin dikenal banyak orang, itu sebabnya ada yang memakai nama pena dan sengaja tidak menuliskan profil penulis secara panjang lebar di akhir buku. Namun, sebaliknya ada juga penulis yang “gila” eksistensi hingga melakukan segala cara termasuk memplagiat.

Penulis ini mendambakan kehidupan di mana namanya dikenal sebagai penulis buku yang hebat, bagus, bahkan kalau bisa naskahnya sampai filmkan semisal buku Tere Liye, Andrea Hirata, dan sebagainya. Tentu, memplagiat naskah orang tentu akan membuat mereka sangat terkenal, bukan sebagai penulis yang hebat, melainkan sebagai plagiator.

5. Biar Dianggap Produktif

Ini setipe dengan penulis yang gila eksistensi tapi tidak berbanding lurus dengan upaya yang dilakukan. Penulis semacam ini kadang lebih mementingkan kuantitas alias jumlah buku yang mereka terbitkan. Seolah-olah memiliki target dalam setahun harus berapa buku yang diterbitkan, dalam sebulan berapa cerpen yang dimuat di media massa, tapi karya yang mereka kirimnya bukan hasil jerih payah mereka sendiri, melainkan hasil plagiat. Duh …

6. Terlalu Cinta dengan Suatu Adegan

Nah, kalau yang ini bukan hanya penulis pemula, kadang penulis senior pun suka melakukannya. Bedanya, penulis senior biasanya tidak memplagiat keseluruhan naskah dari halaman satu sampai ending, tetapi hanya sebagian scene / adegan. Misalnya, ada buku berjudul AA yang bercerita perjuangan seorang ibu kepada anaknya, lalu di halaman sekian ada adegan si ibu mencium kening si anak sembari menyanyikan lagu nina bobo.

Lho, itu kan umum? Coba kita lanjut lagi, pada bagian itu si ibu mengucapkan selamat tinggal sembari berkata, “Maaf Ibu tidak bisa menjagamu lebih lama, kamu harus tinggal dengan orang yang tidak kamu kenal.” Lalu, si anak tiba-tiba terbangun dan menangis meraung-raung, kemudian berkata, “Sekali ibu melangkahkan kaki keluar dari pintu, aku tidak mau lagi bertemu dengan ibu.”

Seandainya penulis lain menyukai adegan itu dan menuliskan ulang dengan bahasa sendiri tidak masalah, yang jadi masalah jika dia benar-benar mengutipnya sama persis kata perkata, itu termasuk plagiat.

Jadi, itu kira-kira alasan kenapa orang memplagiat naskah. Yang pasti, ketika kalian memutuskan untuk memplagiat, pada hari itu juga kalian sudah siap menerima segala risikonya; dicerca banyak orang; terkenal sebagai plagiator; diblacklist penerbit dan media massa; dan butuh usaha sangat keras untuk membersihkan nama kalian.

***

by Redaksi Maghfirah Pustaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FAN PAGES KAMI

ALAMAT KAMI

MAGHFIRAH PUSTAKA

Jl. Swadaya Raya,
Kavling DKI Blok J No. 18, RT 01/05
Jakarta Timur – 13440

: 021-86613563/72
: 021-86608593
: info @ maghfirahpustaka.id

PETA LOKASI

Copyright 2017 Maghfirah Pustaka